Hatur Nuhun parantos sumping di Blog abdi

Jumat, 02 September 2016

Kampungku Buleud Jati Tarogong


Pagi itu, sang mentari nampak berwajah kemerah – merahan karena agak malu untuk keluar dari peraduannya, lalu sang ayam pun terus memanggil sang mentari untuk keluar dari peraduannya. Bukan hanya ayam, para kodok pun saling bersahut – sahutan di pematang sawah pertanda mereka sangat gembira atas datangnya pagi.
Sementara angin tetap berdesir, bertiup, menari – nari melambai kesana kemari diantara hijaunya pepohonan yang nampak basah namun kelihatan segar karena sang embun tetap pada tugasnya, memberikan kesegaran pagi. Lambat laun akhirnya sang mentari pun mulai bangun dan  pelan – pelan mulai menyinari bumi, ayam tidak lagi berkokok karena mereka harus mencari makan dihutan agar tidak ketinggalan dari yang lainnya. Pun demikian dengan para kodok yang juga akhirnya berhenti setelah  bernyanyi dipagi hari itu


Setelah hari semakin siang, para warga segera bekerja ditempat kerja masing – masing. Nampak seorang bapak – bapak segera memakai capingnya, memanggul cangkulnya, dan bergegas ke ladang untuk mencangkul, dan mencangkul, lalu setelah mencangkul ia segera mendapatkan banyak rupiah dari tuannya. Bagi bapak tersebut, cangkul adalah uang, karena dengan cangkul, dia dapat menghidupi anak istrinya, menghidupi keluarganya, karena cangkul bagi dia adalah sumber penghasilnnya.

Lalu, lain lagi dengan bapak yang satunya, dia tidak mencangkul, tetapi segera bergegas memakai seragam sekolah, yang tampaknya sudah mulai lusuh akibat termakan usia, segera dia degan mengendarai sepeda motor butut menuju kesekolah tempat ia bekerja, ia pun mengendarai sepeda butut itu, naik, melewati jalanan yang hampir semuanya becek, dan sulit dilaui, dan akhirnya sampai juga ia disekolah itu, setelah sampai disekolah, ia disambut dengan sukacita oleh murid – muridnya, semua muridnya menciumi tangannya, bahkan sampai tangan bapak itu kotor karena ternyata salah satu murid mencium dan ingusnya menempel ditangan bapak itu.
Tapi tidak masalah, bagi sang bapak, itu adalah bagian dari perjuangannya untuk mendidik anak – anak desa tersebut, menjadikannnya pandai, juga disisi lain ia dapat menafkahi keluarganya. Luar biasa pemandangan pagi itu, penuh dengan kesegaran, penuh dengan kedamaian, penuh dengan ketulusan, penuh dengan pengabdian, penuh dengan perjuangan yang tak kenal lelah, dalam rangka menggapai makna hidupnya masing – masing.
Dan sekasrang sudah lain dan berbeda jauh jalan sudah berhotmix dan keluarga bahagia sebagian sudah mempunya kendaran walaupun kendaraan itu roda dua.
semoga berkenan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar